thanks to uwha for the nice poems!
Syair Angin Januari
Entah mengapa angin january yang basah masih saja tak mampu mengingatkanmu pada pertautan antara kita
padahal sudah cukup banyak kugoreskan harapan yang menyala-nyala dalam keheningan panjang
juga rinduku ini selalu saja menjadi bahasa hidup
tanpa kau pahami meski kutuang dalam gumpalan air mata
seperti lilin yang senantiasa membeku
Dan syair-syair yang kuanyam selama setahun kini luruh disapu angin.
Sunday, June 03, 2001
Tuesday, May 29, 2001
Siapa?
Siapa ?
siapa dia? gadis cantik nan belia?
mataku tertohok duri setan lewat
terpaku di belokan angkot
siapa dia? gadis cantik nan belia?
mataku tertohok duri setan lewat
terpaku di belokan angkot
Sunday, May 27, 2001
menulis cinta
: mn
pedih mata oleh tangisan sesal mungkin sudah tak lagi perlu engkau peduli, ataukah masih? kisah-kisah kita telah terkubur dalam diary dan butiran-butiran hail musim gugur. kuning merah dedaunan rontok sebagai helai-helai asa mengukir batu nisan suatu masa.
notasi tertulis di gigi indahmu dalam senyum masih melagukan simfoni dalam nada-nada minor sedang langkah tarianku telah berhenti lama. masih pula kaumainkan musik kamar dalam sayatan lengking biola, menoreh-norehkan merah luka pada layar hitam perjalanan.
(engkau masih lincah juga memainkan jemari pada dawai-dawai nasib, dan kaulempar-lemparkan nada-nada tanpa birama tetap: merah kuning biru tak pernah mencapai ungu)
di lututku kauletakkan dagu mungilmu, dengan seuntai senyum pernah dan musik itu masih mencoba menghibur malam-malamku yang jengah sayatan dawaimu denting harpa dewa-dewa, kelepak lembaran naskah selapik cinta menggigil masih dalam badai, biarlah teruji oleh sejarah!
o, nama yang tak pernah selesai kutulis huruf-hurufnya
saat habis nanti darahku terhisap kuas sebagai tinta
saat itulah mungkin berhasil kutuliskan cinta!
yogyakarta, 20 april 2001: dini hari
[titik nol]
: mn
pedih mata oleh tangisan sesal mungkin sudah tak lagi perlu engkau peduli, ataukah masih? kisah-kisah kita telah terkubur dalam diary dan butiran-butiran hail musim gugur. kuning merah dedaunan rontok sebagai helai-helai asa mengukir batu nisan suatu masa.
notasi tertulis di gigi indahmu dalam senyum masih melagukan simfoni dalam nada-nada minor sedang langkah tarianku telah berhenti lama. masih pula kaumainkan musik kamar dalam sayatan lengking biola, menoreh-norehkan merah luka pada layar hitam perjalanan.
(engkau masih lincah juga memainkan jemari pada dawai-dawai nasib, dan kaulempar-lemparkan nada-nada tanpa birama tetap: merah kuning biru tak pernah mencapai ungu)
di lututku kauletakkan dagu mungilmu, dengan seuntai senyum pernah dan musik itu masih mencoba menghibur malam-malamku yang jengah sayatan dawaimu denting harpa dewa-dewa, kelepak lembaran naskah selapik cinta menggigil masih dalam badai, biarlah teruji oleh sejarah!
o, nama yang tak pernah selesai kutulis huruf-hurufnya
saat habis nanti darahku terhisap kuas sebagai tinta
saat itulah mungkin berhasil kutuliskan cinta!
yogyakarta, 20 april 2001: dini hari
[titik nol]
Subscribe to:
Posts (Atom)